Quant Decoded Research·Strategi·2026-03-06·11 min

Disposition Effect: Mengapa Investor Menjual Saham Untung Terlalu Cepat

Investor cenderung menjual posisi untung terlalu cepat dan menahan posisi rugi terlalu lama. Berakar pada teori prospek dan loss aversion, disposition effect menggerus return dan mendorong faktor momentum.

Sumber: Odean (1998), Journal of Finance / Shefrin & Statman (1985) ↗

Poin Utama

Kesalahan $100 Miliar

Secara agregat, disposition effect bukanlah kebiasaan minor. Odean (1998) memperkirakan bahwa saham pemenang yang dijual investor individu mengungguli saham pecundang yang mereka pertahankan sebesar 3,4 persen selama tahun berikutnya. Diterapkan pada sekitar $3 triliun ekuitas yang dipegang ritel AS pada 1990-an, destruksi kekayaan tahunan dari penjualan prematur saham pemenang melebihi $100 miliar. Barber dan Odean (2000) selanjutnya mendokumentasikan bahwa trader individu paling aktif underperform strategi buy-and-hold sebesar 6,5 persen per tahun, dengan disposition effect menjadi salah satu komponen terbesar yang dapat diidentifikasi dari kekurangan tersebut. Ini bukan rounding error. Ini adalah pajak perilaku yang berbunga majemuk tanpa henti -- dan tidak seperti komisi, terbukti sangat resisten terhadap kekuatan kompetisi dan teknologi.

Disposition effect adalah salah satu bias perilaku yang paling robust dan mahal dalam investasi. Investor individu memiliki kemungkinan sekitar 50 persen lebih besar untuk menjual posisi yang untung dibanding posisi yang rugi. Perilaku asimetris yang berakar pada teori prospek dan loss aversion ini menggerus return portofolio sekitar 3 hingga 4 persen per tahun. Efek ini juga berkontribusi pada anomali momentum dengan menunda proses penemuan harga. Tax-loss harvesting -- menjual saham rugi alih-alih saham untung -- menawarkan strategi kontra yang rasional dan efisien secara pajak.

Apa Itu Disposition Effect?

Pada tahun 1985, Hersh Shefrin dan Meir Statman menciptakan istilah "disposition effect" untuk menggambarkan pola yang mereka amati dalam perilaku investor: kecenderungan kuat untuk menjual aset yang telah naik nilainya (pemenang) sambil terus memegang aset yang telah turun (pecundang). Ini bertentangan langsung dengan optimalisasi pajak yang rasional. Investor rasional seharusnya menunda realisasi keuntungan untuk menunda pajak dan merealisasi kerugian untuk mendapatkan manfaat pajak.

Disposition effect tidak terbatas pada satu pasar atau tipe investor tertentu. Fenomena ini telah didokumentasikan pada investor individu di Amerika Serikat, Finlandia, Tiongkok, Korea, dan Australia. Efek ini muncul di pasar ekuitas, opsi, dan real estat. Investor profesional menunjukkan bias yang lebih lemah dibanding trader ritel, namun tetap tidak sepenuhnya kebal.

Landasan Teoretis: Teori Prospek

Penjelasan paling meyakinkan untuk disposition effect berasal dari teori prospek Kahneman dan Tversky (1979), yang menggambarkan bagaimana orang mengevaluasi keuntungan dan kerugian relatif terhadap titik referensi -- biasanya harga beli.

Teori prospek memiliki tiga fitur kunci yang relevan dengan disposition effect.

FiturDeskripsiDampak pada Trading
Keuntungan cekung, kerugian cembungRisk-averse saat untung; risk-seeking saat rugiMenjual pemenang terlalu cepat; menahan pecundang terlalu lama
Loss aversionKerugian terasa ~2x lebih menyakitkan dari keuntungan setaraEnggan merealisasikan kerugian
Anchoring pada titik referensiInvestor terpaku pada harga beliMenjual di atas harga beli = keberhasilan

Bukti Empiris: Studi Odean

Studi empiris paling berpengaruh dilakukan oleh Terrance Odean pada tahun 1998. Menggunakan catatan perdagangan dari sekitar 10.000 akun di sebuah broker diskon besar AS dari tahun 1987 hingga 1993, Odean menghitung Proportion of Gains Realized (PGR) versus Proportion of Losses Realized (PLR).

MetrikNilai
Proportion of Gains Realized (PGR)14,8%
Proportion of Losses Realized (PLR)9,8%
Rasio PGR / PLR1,51
Ukuran sampel~10.000 akun
Periode1987-1993

Investor 1,51 kali lebih mungkin menjual posisi untung dibanding posisi rugi. Hasil ini bertahan setelah mengontrol rebalancing portofolio, perdagangan bermotif pajak, dan efek mekanis dari limit order.

Yang krusial, Odean juga meneliti kinerja selanjutnya. Saham pemenang yang dijual investor kemudian mengungguli saham pecundang yang mereka pertahankan sebesar rata-rata 3,4 persen selama 12 bulan berikutnya. Investor tidak secara cerdas menjual saham di puncaknya. Mereka secara sistematis memangkas posisi terbaik dan mempertahankan posisi terburuk.

Disposition Effect di Berbagai Pasar

Penelitian selanjutnya mengonfirmasi disposition effect secara global, dengan variasi menarik antar pasar.

PasarRasio PGR/PLRTemuan Utama
Investor ritel AS1,51Temuan asli Odean (1998)
Investor Finlandia1,29Lebih lemah tapi signifikan; Grinblatt & Keloharju (2001)
Ritel Tiongkok1,64Efek lebih kuat di pasar turnover tinggi
Ritel Korea (KOSPI)1,40-1,60Menonjol di akun individual
Trader profesional1,05-1,15Berkurang signifikan namun tetap ada
Investor berpengalaman1,10-1,25Pengalaman mengurangi tapi tidak menghilangkan bias

Bias ini paling kuat pada trader ritel pemula, di pasar dengan partisipasi individual yang tinggi, dan selama periode volatilitas tinggi.

Bagaimana Disposition Effect Mendorong Momentum

Salah satu wawasan terpenting dari penelitian behavioral finance adalah bahwa disposition effect mungkin menjadi pendorong utama anomali momentum.

Grinblatt dan Han (2005) mengajukan model di mana disposition effect menciptakan celah antara nilai fundamental dan harga pasar. Ketika berita baik muncul, investor yang duduk di posisi untung menjual terlalu cepat, menciptakan kelebihan pasokan dan mencegah saham mencapai nilai fundamentalnya. Ketika berita buruk muncul, investor yang memegang posisi rugi menolak menjual, menciptakan lantai harga yang mencegah saham jatuh ke nilai fundamentalnya.

Hasilnya adalah underreaction yang sistematis. Harga menyesuaikan secara lambat terhadap informasi baru karena perdagangan yang didorong disposition effect bekerja melawan penemuan harga yang sempurna. Inilah yang menciptakan perilaku trending yang dieksploitasi oleh strategi momentum.

Tax-Loss Harvesting: Strategi Kontra yang Rasional

Jika disposition effect menyebabkan investor menahan saham rugi dan menjual saham untung, maka strategi optimal melakukan kebalikannya. Tax-loss harvesting melibatkan penjualan sistematis posisi rugi untuk merealisasi capital loss, yang dapat digunakan untuk mengimbangi capital gain dan mengurangi kewajiban pajak.

Langkah 1. Secara berkala menyaring portofolio untuk posisi yang diperdagangkan di bawah basis biayanya dengan ambang batas yang signifikan, biasanya 5 hingga 10 persen.

Langkah 2. Jual posisi rugi dan segera reinvestasi pada aset yang serupa tapi tidak identik untuk mempertahankan eksposur pasar. Investor di Indonesia perlu memperhatikan aturan pajak capital gain yang berlaku di pasar domestik.

Langkah 3. Catat capital loss dan gunakan untuk mengimbangi realized gain.

Wawasan perilaku sangat penting: tax-loss harvesting memaksa Anda melakukan apa yang secara naluriah Anda tolak -- menjual saham rugi dan mendeploy ulang modal ke posisi dengan prospek yang lebih baik.

Implikasi Praktis bagi Investor Kuantitatif

Untuk strategi sistematis. Disposition effect adalah sumber alpha murni untuk strategi berbasis momentum. Jika pelaku pasar lain secara sistematis underreact karena mereka menjual pemenang terlalu cepat dan menahan pecundang terlalu lama, tren harga akan bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Strategi momentum mendapat profit dari fenomena ini.

Untuk konstruksi portofolio. Investor kuantitatif harus membangun aturan yang melawan disposition effect. Rebalancing otomatis dan stop-loss sistematis menghilangkan kecenderungan manusia untuk terpaku pada harga beli. Sizing posisi harus didasarkan pada sinyal forward-looking, bukan pada apakah posisi saat ini profitable.

Untuk manajemen risiko. Disposition effect menciptakan risiko portofolio tersembunyi. Investor yang menolak menjual saham rugi berakhir dengan posisi terkonsentrasi pada saham yang sedang menurun, meningkatkan volatilitas portofolio dan mengurangi diversifikasi.

Analisis Terapan: Disposition Effect di Berbagai Tipe Investor dan Kondisi Pasar

KonteksRasio PGR/PLRReturn Drag TahunanTemuan KunciSumber
Ritel AS (1987-1993)1,51~3,4%Temuan landmark asliOdean (1998)
Ritel AS, trader aktif1,60+~6,5%Kuintil paling aktif rugi terbanyakBarber & Odean (2000)
Ritel Tiongkok A-shares1,64~4,2%Terkuat di pasar partisipasi tinggiFeng & Seasholes (2005)
Trader profesional Israel1,05-1,10~0,5%Pelatihan mengurangi tapi tidak menghilangkanShapira & Venezia (2001)
Real estate (AS)1,30-1,50BervariasiPenjual menahan properti rugi ~25% lebih lamaGenesove & Mayer (2001)

Kerangka Bersaing: Disposition Effect vs. Penjelasan Alternatif

KerangkaMekanisme IntiDukungan Empiris
Teori Prospek / DispositionFungsi nilai S, loss aversionSangat kuat (Odean 1998, replikasi global)
Keyakinan Mean ReversionKeyakinan rasional pembalikan hargaDitolak (Odean 1998)
OverconfidenceKeyakinan berlebihan pada kemampuan sendiriKuat (Barber & Odean 2001)
Regret AversionAntisipasi rasa sakit emosional dari keputusan salahModerat

Bobot bukti mendukung teori prospek sebagai pendorong utama, dengan overconfidence dan regret aversion sebagai mekanisme penguat. Mean reversion belief adalah satu-satunya kerangka yang telah ditolak secara empiris.

Menilai Ulang Disposition Effect

Disposition effect terdokumentasi dengan baik, namun beberapa nuansa patut diperhatikan. Estimasi return drag (3 hingga 4 persen) terutama berasal dari data broker ritel tahun 1990-an. Perdagangan tanpa komisi, investasi otomatis, dan literasi keuangan yang meningkat mungkin telah mengurangi efek ini di kalangan segmen investor tertentu, meskipun bukti dari studi era Robinhood menunjukkan bias tetap kuat di kalangan kohort baru trader ritel. Hubungan kausal antara disposition effect dan profitabilitas momentum masih diperdebatkan. Manfaat tax-loss harvesting sangat bergantung pada aturan pajak spesifik yurisdiksi dan kurang relevan untuk akun bebas pajak.

Apa yang Ditunjukkan Data Perdagangan

Disposition effect menempati posisi unik dalam behavioral finance: ia secara bersamaan merupakan salah satu bias yang paling lama didokumentasikan dan salah satu yang paling robust secara empiris. Temuan inti telah direplikasi di lebih banyak studi, pasar, dan periode waktu dibanding hampir semua fenomena perilaku lain di keuangan.

Kekuatan replikasi: Sangat kuat. Rasio PGR/PLR Odean (1998) sebesar 1,51 telah dikonfirmasi di Finlandia, Tiongkok, Israel, dan banyak negara lain. Efek ini didokumentasikan di pasar ekuitas, opsi, real estate, reksa dana, dan bahkan cryptocurrency. Barberis dan Xiong (2009) menunjukkan model teori prospek mereplikasi pola penjualan yang diamati. Frazzini (2006) memberikan bukti institusional bahwa manajer reksa dana juga menunjukkan disposition effect. Per 2025, estimasi konsensus return drag tahunan dari disposition effect untuk investor ritel tipikal berkisar antara 1,5 hingga 4,0 persen.

Referensi

  1. Barber, B. M., & Odean, T. (2000). "Trading Is Hazardous to Your Wealth." The Journal of Finance, 55(2), 773-806. https://doi.org/10.1111/0022-1082.00226
  2. Barber, B. M., & Odean, T. (2001). "Boys Will Be Boys: Gender, Overconfidence, and Common Stock Investment." The Quarterly Journal of Economics, 116(1), 261-292. https://doi.org/10.1162/003355301556400
  3. Feng, L., & Seasholes, M. S. (2005). "Do Investor Sophistication and Trading Experience Eliminate Behavioral Biases in Financial Markets?" Review of Finance, 9(3), 305-351. https://doi.org/10.1007/s10679-005-2262-0
  4. Frazzini, A. (2006). "The Disposition Effect and Underreaction to News." The Journal of Finance, 61(4), 2017-2046. https://doi.org/10.1111/j.1540-6261.2006.00876.x
  5. Genesove, D., & Mayer, C. (2001). "Loss Aversion and Seller Behavior: Evidence from the Housing Market." The Quarterly Journal of Economics, 116(4), 1233-1260. https://doi.org/10.1162/003355301753265561
  6. Grinblatt, M., & Han, B. (2005). "Prospect theory, mental accounting, and momentum." Journal of Financial Economics, 78(2), 311-339. https://doi.org/10.1016/j.jfineco.2004.10.006
  7. Grinblatt, M., & Keloharju, M. (2001). "What Makes Investors Trade?" The Journal of Finance, 56(2), 589-616. https://doi.org/10.1111/0022-1082.00338
  8. Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). "Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk." Econometrica, 47(2), 263-292. https://doi.org/10.2307/1914185
  9. Odean, T. (1998). "Are Investors Reluctant to Realize Their Losses?" The Journal of Finance, 53(5), 1775-1798. https://doi.org/10.1111/0022-1082.00072
  10. Shefrin, H., & Statman, M. (1985). "The Disposition to Sell Winners Too Early and Ride Losers Too Long." The Journal of Finance, 40(3), 777-790. https://doi.org/10.1111/j.1540-6261.1985.tb05002.x

Konten edukasi saja.